TACTICAL STORE
Uncategorized

Si Abel

Dengan sepeda motor maticnya, dia datang ke rumah saya. Memang biasanya dia datang untuk mengambil bubuk kopi hitam yang biasa di pakai untuk stok kedai kopinya. Saya memang berjualan bubuk kopi dan dia membeli dari saya. Namun, kedatangannya bukan untuk itu. Istri saya memang saya suruh untuk menelponnya karena tetangga depan rumah saya meninggal. Tidak banyak orang di sana. Dia memang selalu bisa diandalkan. Paling tidak, sering bisa di andalkan tepatnya. Seperti saat ini.

Sebatang rokok di hisapnya setelah turun dari motornya. Dia memang perokok berat. Saya terus membujuknya untuk berhenti seperti saya. Namun, sepertinya bukanlah hal yang mudah. Saya tahu pasti, dia juga sangat ingin berhenti namun belum bisa. Saya pernah membelikan buku berhenti merokok untuknya. Buku itu juga salah satu buku yang membuat saya berhasil berhenti dari ketergantungan rokok beberapa tahun yang lalu. Entahlah, di baca atau tidak. Namun saya tak henti berupaya untuk terus menyadarkannya dari kebiasaan buruknya tersebut.

“Pak Edi Meninggal, tidak ada orang. Lalu, bagaimana?”

Kami pun kerumah di depan saya yang agak. Tidak tepat di depan rumah saya memang. Satu rumah di kirinya rumah depan saya. Kursi dan meja di keluarkan untuk menata karpet. Diapun lalu membelikan perlengkapan untuk keperluan bersama si Konta. Hari itu kita menunggu sampai siang karena harus menanti sang anak yang belum datang dari Surabaya.  Wajah letih pun terlihat di sana. Maklum, ternyata malamnya dia pun harus bergadang untuk mengurusi tetangga dekatnya yang juga akhirnya meninggal di pagi itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *